“Eropa adalah masa lalu, dan Asia adalah masa depan”.
Ucapan yang keluar dari mulut presenter Helmy Yahya dalam sebuah acara di salah satu televisi nasional pada 16 Oktober 2011 malam kemarin, menyulut benak penulis untuk mengurainya. Terlebih ketika bersinggungan dengan materi perkuliahan yang masih menghangat dalam benak penulis.
Kalimat kutipan di atas, tak lain merujuk kepada kejayaan peradaban masing-masing benua. Kejayaan Eropa sekaligus Amerika diramalkan tak lama lagi akan terbenam. Sebaliknya Asia, dikatakan sedang bersiap menatap masa depan cerah.
Hingar-bingar pertarungan antar peradaban dunia, dalam sejarahnya memang selalu menarik untuk disimak. Filosof muslim sekaliber Ibnu Khaldun sendiri dalam konsepsi daur ulang sejarahnya, mengemukakan 4 sirkulasi masa sebuah peradaban. Dari mulai generasi pendiri, pembangun, penikmat, hingga penghancur. Bagi Khaldun, 4 fase ini selalu berulang-ulang terjadi, layaknya filosofi roda kehidupan: kadang di atas, kadang di bawah.
Yang menarik dan menjadi concern tulisan ini yaitu tetap pada kalimat pertama di atas. Berkaitan dengan itu, ideologi politik yang juga bersemayam dalam sebuah cakupan wilayah menyatu dengan “identitas” sebuah peradaban.
Daniel Bell (1960), dalam The End of Ideology seolah membuka “gerbang” perdebatan seputar ideologi politik kontemporer. Dalam bukunya itu, Bell mengatakan bahwa dengan adanya konsensus di Barat, yang isinya menerima konsep welfare state dan pluralisme politik, maka riwayat ideologi politik pun sudah tamat. Artinya tidak lagi ada big ideas (liberal vs komunis) bertentangan.
Selanjutnya Fukuyama (1992), salah seorang Amerika keturunan Jepang menambah seru perdebatan ini. Fukuyama, mencoba menyelam lebih jauh lagi lewat bukunya The End of History. Sedikit berbeda dengan Bell, pendapatnya lebih ekstrem. Menurutnya, bukan hanya ideologi yang tamat, namun sejarah pun telah berakhir. Ini dengan alasan runtuhnya ideologi komunis, dan dipakainya ideologi demokrasi liberal di hampir seluruh negara di dunia. Dengan logika itu, ia menambahkan, maka Amerika otomatis keluar sebagai pemenang perdebatan ideologi secara faktual.
Akan tetapi tesis Fukuyama tidak diterima begitu saja. Banyak kritik yang meluncur deras ke Fukuyama. Para ilmuwan berpendapat, Fukuyama terlalu dini mengklaim kemenangan kubu Barat. Kecuali itu, ia juga dianggap memiliki kepentingan melanggengkan ideologi negaranya. Ya, mengingat ia mempunyai jabatan di salah satu institusi pemerintahan Amerika, opini yang berkembang saat itu memang masuk akal.
Salah seorang tokoh yang terang-terangan “menggempur” Fukuyama ialah Samuel P. Huntington. Melalui bukunya yang berjudul Clash of the Civilization, Huntington membantah bulat-bulat pendapat Fukuyama. Di satu sisi, bahwa sejak 1990 hampir semua negara di dunia mengklaim diri demokratis, yang berarti keunggulan Amerika dalam duel ideologi tadi, Huntington sepakat dengan Fukuyama. Namun di sisi lain, Huntington habis-habisan “menyikat” pria keturunan Jepang. Menurutnya, meski belakangan ideologi liberal selangkah lebih unggul, tapi tidak serta-merta pertentangan ideologi berakhir begitu saja, terlebih bila menyebut Amerika menjadi pemenang. Dalam pandangannya, masih ada gerakan kebangkitan Konfucius (Cina) dan formalisme Islam (Iran) yang mewaklili ideologi lain. Ini menandakan benturan antar peradaban masih akan terus bergejolak.
Bagi saya, jika menilik pada situasi kekinian, hipotesa yang dikeluarkan Huntington memang dapat diterima. Negara Cina, kita sama-sama ketahui terus digadang-gadang menjadi supremasi baru setelah Amerika. Untuk “kasus” ekonomi, dengan memiliki cadangan devisa yang mencapai hingga $1 triliun lebih, punya surplus simpanan bank terbesar di dunia (sekitar $180 miliar), dan sederet fakta lain, sudah cukup membuktikan kemapanan bangsa ber-ras kuning. Dalam hal militer, serangkaian uji coba armada baru dan pembuatan senjata yang juga baru, telah banyak ditorehkan. Bahkan pada Januari 2011 silam, Cina melakukan uji coba pesawat jet J-20 tepat dihadapan mata Robert Gates (Menhan AS) yang ketika itu sedang berkunjung.
Iran lain lagi. Negara yang “berdomisili” di Timteng ini, tak bisa dimungkiri sering membuat kuping AS panas. Apa lacur, proyek nuklir reinkarnasi bangsa Persia ini selalu membuat Barat merasa terancam. Tak cuma itu, di saat tetangga-tetangganya banyak yang “menghamba” kepada Amerika, Iran tetap ogah bertekuk lutut.
Melalui 2 fakta kondisi negara di atas, kita patut memberi apresiasi atas kebangkitan mereka. Terlebih keduanya masih berada dalam satu benua: Asia. Namun, apalah arti apresiasi bila di tanah sendiri tak merasakan.
Merujuk pada teori Khaldun, mari bersama mewujudkan kebangkitan peradaban Timur di tengah-tengah generasi penghancur bangsa kita.
*Dimuat di ‘Tanpa Nama’, buletin mingguan mahasiswa Akidah Filsafat, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada November 2011.